Sahabat.com - Selama ini, banyak orang mengira gangguan mental disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia di otak. Namun, penelitian terbaru dari Harvard Medical School justru menunjukkan hal mengejutkan — masalah kesehatan mental bisa bermula dari gangguan energi di dalam sel otak itu sendiri.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Bruce M. Cohen, Profesor Psikiatri di Harvard Medical School dan Direktur Program Penelitian Neuropsikiatri di McLean Hospital, menemukan bahwa cara sel otak memproduksi dan menggunakan energi ternyata berperan besar dalam munculnya gangguan seperti skizofrenia, bipolar, hingga Alzheimer.
“Temuan ini memberi kami petunjuk yang tidak pernah kami miliki empat puluh tahun lalu,” ujar Dr. Cohen dalam wawancara dengan Genomic Press.
Dengan menggunakan teknologi sel punca (induced pluripotent stem cells), timnya mampu menumbuhkan sel otak hidup dari sampel pasien dan melihat langsung bagaimana metabolisme di dalamnya terganggu.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa sel otak dari pasien dengan gangguan mental menunjukkan kerusakan sistem energi yang signifikan. Gangguan ini bisa memengaruhi cara sel otak berkomunikasi satu sama lain, yang kemudian berdampak pada suasana hati, pikiran, dan perilaku seseorang.
Dr. Cohen menjelaskan bahwa otak adalah organ paling haus energi di tubuh manusia. Saat produksi energi terganggu, seluruh fungsi otak bisa menurun — bahkan sebelum gejala gangguan mental muncul.
“Jika kita bisa memperbaiki fungsi energi di tahap awal, kita mungkin bisa mencegah atau memperlambat gejala penyakit mental,” jelasnya.
Temuan ini juga menantang cara dunia kedokteran mendefinisikan penyakit mental.
Dr. Cohen mengusulkan agar istilah seperti “skizofrenia” dan “bipolar” mulai ditinggalkan karena terlalu umum dan tidak mencerminkan kenyataan biologis yang kompleks. Ia menyarankan pendekatan baru berbasis gejala dan biologi, bukan label semata.
Pendekatan ini tidak hanya membantu diagnosis menjadi lebih akurat, tapi juga mengurangi stigma yang sering menempel pada penderita gangguan mental.
“Kita harus berhenti menempatkan orang ke dalam kotak diagnosis yang kaku. Setiap pasien memiliki profil unik yang perlu dipahami secara mendalam,” tambahnya.
Selain memimpin penelitian, Dr. Cohen juga pernah menjadi Presiden McLean Hospital dari 1997 hingga 2005. Di masa kepemimpinannya, ia berhasil mengubah rumah sakit itu menjadi pusat riset dan perawatan mental kelas dunia.
Ia juga mendirikan Waverley Place, pusat dukungan berbasis komunitas untuk pasien yang hidup dengan gangguan mental — langkah yang menunjukkan bahwa misi kemanusiaan bisa sejalan dengan sains.
Kisah pribadinya pun menginspirasi. Dr. Cohen mengaku pernah berjuang melawan rasa cemas dan pemalu di awal kariernya.
“Yang membuat saya bertahan bukan karena saya tak punya hambatan, tapi karena saya terus berusaha,” katanya jujur.
Dukungan keluarga dan dedikasi ayahnya yang juga seorang dokter menjadi fondasi penting dalam karier ilmiahnya.
Kini, Dr. Cohen optimistis masa depan psikiatri akan lebih berfokus pada pencegahan, personalisasi, dan kesehatan seluler.
Dengan kemajuan teknologi genetik dan kemampuan menumbuhkan sel otak manusia di laboratorium, ia yakin era baru dalam pengobatan gangguan mental segera dimulai.
0 Komentar
Air Kelapa atau Santan, Mana yang Lebih Sehat? Jawabannya Bisa Bikin Anda Terkejut!
Dokter Bongkar Trik 60 Detik Redakan Asam Lambung Naik Tanpa Obat, Cukup Tarik Napas dan Minum Air!
Telur Retak Masih Aman Dimakan? Jawaban Ahli Ini Bisa Bikin Anda Langsung Buang dari Kulkas
Kanker Prostat Joe Biden Terlambat Terdeteksi, Dokter Ungkap Alasan yang Jarang Disadari Pria Lansia
Rahasia Panjang Umur! 3 Ahli Gizi Ungkap Roti Paling Sehat yang Diam-Diam Bikin Tubuh Awet Muda
Leave a comment