Sahabat.com - Yogurt rasa buah, granola kemasan, hingga jus botolan sering dianggap menu sarapan sehat dan praktis. Namun di balik tampilannya yang “healthy”, beberapa makanan tersebut ternyata masuk kategori ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung.
Penelitian terbaru yang dimuat dalam European Heart Journal menemukan bahwa orang yang paling banyak mengonsumsi bahan pengawet dari makanan ultra-proses memiliki risiko tekanan darah tinggi hingga 29 persen lebih besar, serta risiko serangan jantung dan stroke meningkat sampai 22 persen.
Dokter sekaligus peneliti kardiologi dari University of Texas, Amier Haidar, mengatakan lemak visceral dan peradangan menjadi faktor utama yang memicu masalah jantung akibat konsumsi UPF berlebihan. “Keduanya berkaitan dengan asupan makanan ultra-proses dan kesehatan jantung yang lebih buruk,” ujarnya.
Ahli nutrisi Federica Amati juga menilai makanan ultra-proses perlahan menggantikan makanan alami yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. “Sayur, buah, dan biji-bijian utuh justru semakin jarang dikonsumsi, padahal itu yang paling penting untuk kesehatan,” katanya.
Beberapa makanan yang sebaiknya mulai dikurangi antara lain saus instan kemasan, daging olahan seperti ham dan sosis, yogurt rasa, snack bar, keripik, sereal manis, hingga roti tawar supermarket. Selain tinggi gula, garam, dan lemak jenuh, produk tersebut juga mengandung pengawet serta emulsifier yang dapat memicu peradangan pada tubuh.
Sebagai gantinya, Federica Amati menyarankan memilih makanan yang lebih alami dan minim proses. Saus kemasan bisa diganti dengan tomat kaleng dan santan, yogurt rasa diganti yogurt plain dengan tambahan buah segar, sementara camilan harian bisa berupa kacang-kacangan, buah, atau zaitun.
Untuk sarapan, oatmeal dan oat utuh dinilai lebih baik dibanding sereal manis karena kaya serat dan mampu membantu menurunkan kolesterol jahat. “Kita kekurangan konsumsi whole grain dan ini berkaitan dengan tingginya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular,” jelas Amati.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada makanan praktis. Menurutnya, memasak makanan sendiri tetap menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.
0 Komentar
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Kapan Bayi Boleh Sleep Training? Pakar Ungkap Usia Ideal dan Cara Aman agar Tidur Nyenyak
Jangan Anggap Sepele! Cepat Lelah Meski Tidur Cukup Bisa Jadi Tanda Tubuh Kekurangan Zat Besi
Pakar Gizi Ungkap Jam Makan Malam Terbaik, Bisa Bantu Turunkan Berat Badan dan Tidur Lebih Nyenyak
Jangan Anggap Sepele Diare Berair, Bisa Jadi Gejala Cyclosporiasis yang Sedang Merebak
5 Jenis Kanker Paling Mematikan pada Pria dan Wanita, Kanker Paru Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu
Leave a comment