Sahabat.com - Kalau kamu atau orang terdekat pernah mendengar tentang TBC, pasti tahu betapa ribet dan lamanya proses pengobatannya.
Tapi ada kabar segar dari dunia medis—terutama buat pasien TBC yang dikenal super bandel alias resistan terhadap obat.
Studi internasional yang melibatkan Harvard Medical School ini menemukan bahwa pengobatan TBC jenis pre-XDR ternyata bisa dilakukan dengan waktu yang jauh lebih singkat dan obat yang lebih sedikit. Tapi tentu saja, nggak semua pasien cocok dengan versi singkat ini.
Para peneliti mencoba regimen pendek ini pada pasien di enam negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. TBC jenis pre-XDR ini adalah tipe yang lebih susah disembuhkan daripada TBC biasa, karena sudah kebal terhadap dua obat paling ampuh: rifampisin dan fluoroquinolone. Tapi belum separah TBC yang benar-benar ekstrem alias extensively drug-resistant TB.
Carole Mitnick, profesor kesehatan global dari Harvard bilang, “Pengobatan singkat ini bukan jaminan pasti sembuh untuk semua orang. Tapi yang penting, kita butuh pendekatan yang lebih personal untuk mengobati TBC jenis ini.”
Mitnick juga bagian dari proyek endTB yang digagas oleh organisasi dunia seperti Médecins Sans Frontières dan Partners In Health.
Dalam studi ini, para peneliti membandingkan pengobatan singkat selama 6–9 bulan yang terdiri dari empat obat (bedaquiline, delamanid, linezolid, dan clofazimine) dengan pengobatan standar yang biasanya makan waktu 18–24 bulan dan bisa melibatkan hingga enam macam obat. Hasilnya?
Pengobatan singkat ternyata efektif sampai 87%, hanya sedikit di bawah pengobatan panjang yang 89%. Tapi ada catatan penting: mereka yang punya kerusakan paru-paru lebih parah cenderung tidak cocok dengan pengobatan singkat ini.
“Buat pasien dengan kondisi paru yang berat, pengobatan singkat—even selama 9 bulan—nggak selalu cukup untuk mencegah kambuh,” jelas tim peneliti.
Artinya, pasien seperti ini mungkin butuh pengobatan yang lebih lama atau kombinasi obat yang lebih agresif.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan kondisi tiap pasien. Jadi nggak bisa semua pasien disamaratakan.
Hal ini bertolak belakang dengan panduan WHO yang sekarang justru menyarankan pengobatan 6 bulan untuk semua jenis kasus.
Mitnick mengingatkan, “Setelah ribuan tahun melawan penyakit yang rumit dan selalu berubah ini, kita harus sangat hati-hati dan detail dalam penanganannya.”
Menurutnya, tujuan utama bukan sekadar memperpendek waktu pengobatan, tapi menyembuhkan sebanyak mungkin orang.
Dan yang nggak kalah penting, selama pengobatan para pasien juga diberi dukungan sosial seperti makanan bergizi dan transportasi, yang terbukti membantu mereka menyelesaikan terapi.
So, meskipun pengobatan singkat ini belum jadi solusi universal, tapi ini bisa jadi harapan besar untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi penderitaan ribuan orang di seluruh dunia yang terjebak dalam pengobatan TBC yang panjang dan melelahkan.
0 Komentar
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Rutin Minum Kopi atau Teh Bisa Cegah Demensia? Ini Temuan Peneliti yang Bikin Lega
Dokter Ungkap Trik Simpel Turunkan Gula Darah Secara Alami, Bisa Langsung Dicoba di Rumah
Tanpa Disadari, 4 Makanan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Kesehatan Ususmu
Leave a comment