Wabah Ebola Kembali Mengancam Afrika, WHO Tetapkan Status Darurat Internasional

19 Mei 2026 13:09
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi mikroskop virus Ebola yang kembali memicu status darurat kesehatan internasional di Afrika Tengah.

Sahabat.com - Dunia kembali dibuat waspada setelah wabah Ebola jenis langka dilaporkan menyebar di kawasan Afrika Tengah. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO bahkan telah menetapkan situasi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional setelah sedikitnya 80 orang meninggal dunia dan ratusan kasus suspek ditemukan di Republik Demokratik Kongo.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada 17 Mei lalu mengumumkan kemunculan virus Bundibugyo, salah satu spesies Ebola yang kini menjadi pusat perhatian dunia medis. “Penyebaran virus ini membutuhkan respons cepat dan pengawasan ketat lintas negara,” ujar Tedros dalam keterangannya.

Tak hanya di Kongo, kasus juga mulai terdeteksi di Uganda. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi dua kasus di ibu kota Kampala, termasuk satu korban meninggal yang diketahui baru melakukan perjalanan dari Kongo. Sementara itu, satu kasus lainnya juga ditemukan di Kinshasa.

Meski WHO menyebut situasi ini belum mencapai level pandemi, sejumlah negara mulai meningkatkan kewaspadaan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan telah mengaktifkan pusat respons darurat untuk membantu pelacakan kontak dan pengawasan penyebaran virus.

Ebola sendiri dikenal sebagai infeksi virus mematikan yang menyerang pembuluh darah dan organ tubuh. Virus ini umumnya berasal dari hewan liar seperti kelelawar buah, landak, hingga primata non-manusia. Penularan pada manusia bisa terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita maupun hewan yang terinfeksi.

Gejala Ebola biasanya muncul dua hingga 21 hari setelah terpapar virus. Pada tahap awal, penderita akan mengalami demam, nyeri tubuh, dan kelelahan. Namun seiring kondisi memburuk, gejala dapat berkembang menjadi diare, muntah, nyeri perut, ruam kulit, hingga perdarahan tanpa sebab yang jelas.

WHO dan CDC menyebut vaksin Ebola sebenarnya sudah tersedia, termasuk vaksin Ervebo yang digunakan untuk mencegah infeksi spesies tertentu dari virus Ebola. Namun vaksin ini hanya diberikan kepada kelompok dengan risiko tinggi terpapar virus.

Lonjakan kasus Ebola kali ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular masih menjadi isu serius dunia, terutama di tengah mobilitas global yang semakin tinggi.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment